Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Saturday, May 27, 2017

Selayar Selayang Pandang


                Selayar adalah gugusan pulau-pulau yang terpisah dengan pulau Sulawesi. Saat ini kepulauan selayar bisa dibilang membujur dari teluk bira sampai laut flores. Dengan pulau terbesar ialah pulau selayar. Bahasa yang digunakan ada bermacam-macam seperti
  • Bahasa selayar, bahasa yang paling banyak digunakan. Namun, ada beberapa perbedaan kata dalam bahasa selayar antara daerah yang satu dengan yang lainnya. Bahasa ini, katanya merupakan rumpun dari bahasa Makassar dialek konjo
  • Bahasa Bugis, sebagian besar digunakan di masyarakat kepulauan, seperti di pulau jampea (ujung), desa rajuni, dan sebagian di desa lambego dan pasi tallu
  • Bahasa bonerate, di sebagian besar kecamatan pasimarannu seperti di pulau bonerate, pulau karumpa, kalao toa sampai di pulau madu
  • Bahasa lambego di desa lambego
  • Bahasa bajo di pesisir dan di ujung pulau-pulau terutama kecamatan pasimasunggu
  • Bahasa laiyolo di desa laiyolo, bagian selatan daratan selayar
  • Bahasa barang-barang di sebagian desa lowa’
  • Bahasa appa’ tana di desa appa’ tana

Mengenai penamaan “Selayar”, Ada banyak pendapat yang berbeda. Pendapat itupun merupakan dugaan dari data sejarah yang sangat terbatas, seperti dari cerita rakyat, cerita nenek moyang secara turun temurun. Namun, hingga saaat ini belum ada sumber dan penelitian mengenai terbentuknya kepulauan selayar.
Kata selayar sebagai sebuah nama wilayah/daerah mulai di kenal setelah Indonesia terbentuk. Sebelumnya, pada masa pemerintahan belanda, mereka menyebutnya “Salaijer” atau “Salier”. Masyarakat setempat menyebutnya “silajara”. Sedangkan dalam dialek bahasa Indonesia menjadi “selayar”
Ada yang mengemukakan bahwa penamaan selayar berasal dari kata “salah layar”, sesuai dengan pernyataan dari bangsawan ternate yang mengemukakan bahwa pada abad XV,  adik dari sultan ternate pernah berlayar dan kehilangan arah hingga terdampar di sebuah pulau yang kemudian di namakan “selayar”. Namun, menurut catatan yang lain selayar sudah dikenal semenjak abad ke XIII, yaitu dua abad sebelum pelayaran adik dari sultan ternate
Kata “silajara” dalam bahasa setempat  bersal dari dua suku kata yaitu “si” yang artinya satu dan “Lajara” yang memiliki arti penahan angina yang bisa berarti layar pada perahu dan bisa berarti penutup pada rumah-rumah yang berbentuk segitiga di belakang ataupun di depan rumah. Jadi, silajara dalam hal ini di artikan sebagai “satu layar”.
Selain “selayar” dan “silajara”, Selayar juga dikenal dengan nama “Tana Doang”. Penamaan ini dalam bahasa selayar terdiri dari dua suku kata yaitu “tana” yang berarti tempat, tanah, daerah atau pulau dan “doang” berarti udang, doa atau harapan. Jadi dalam hal ini “tana doang” bisa dirtikan “pulau yang berbentuk udang” dan dapat juga diartikan sebagai “pulau harapan”. Dalam Pengertian sebagai “pulau harapan”, ada catatan yang menyebutkan bahwa dahulu, ketika ada pelaut yang berlayar dari arah barat. Pada saat sampai di selat selayar mereka pantang menyebut nama “selayar” tapi mereka menyebut “telah tampak Tana Doang”. Jika telah tampak Bira, disebutlah pula “Doata” yang berarti doa / harapan kita. Dalam budaya masyarakat setempat, Ketika A’limbang (menyebrang) melewati selat selayar, biasanya mereka membuat sesajen yang diturungkan ke laut dengan harapan pelayaran mereka sampai dengan selamat.

Jadi tidak begitu jelas mengenai penamaan. Namun, bukan berarti tidak ada asal usul yang jelas. Karena ada kemungkinan masih ada data ataupun catatan tentang selayar yang tersembunyi di suatu tempat, ataupun cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah yang erbeda dengan yang kami tuliskan. Karena tulisan ini hanya untuk berbagi cerita.

Pulau benbe, Dekat dengan pulau jampea dan sekitar 9 jam dari pulau selayar

Friday, March 3, 2017

Sekilas tentang Budaya di Kabupaten Kepulauan Selayar Part-2

Kabupaten Kepulauan Selayar  begitu kaya dengan kebudayaan yang bermacam-macam pula jenisnya.
Artikel kali ini menyajikan kembali beberapa budaya di Kabupaten kepulauan selayar yang merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya dengan judul Sekilas tentang Budaya di Kabupaten Kepulauan Selayar Part 1
Berikut penjelasan budaya yang akan lebih menambah pengetahuan pembaca tentang Kabupaten Kepulauan Selayar
1. Adu kuda jantan


Tradisi adu kuda jantan merupakan salah satu adat kebudayaan masyarakat kecamatan Pasimarannu yang setiap tahunnya digelar dalam rangka memeriahkan pesta tahunan sebagai bagian dari kebudayaan turun temurun masyarakat di daerah ini. Atraksi adu kuda seperti ini biasanya digelar di tempat terbuka seperti lapangan ataupun kawasan pesisir pantai.
2. Dide'


Kesenian Tradisional Dide’ adalah lagu-lagu dalam bahasa Selayar yang dinyanyikan secara berpasangan antara beberapa orang pria dan wanita. Kebanyakan syair lagu Dide’ adalah kata mutiara yang menggambarkan berbagai sisi kehidupan masyarakat Kepulauan Selayar. Langgamnya mirip alunan lagu dari seorang Sinden.
Lagu Dide’ yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kepulauan Selayar, pada zaman dahulu  biasanya dinyanyikan pada acara pesta panen, acara adat, pesta perkawinan dan terkadang juga pada acara syukuran. Meski kebanyakan syair lagu Dide’ adalah kata mutiara, namun kadang juga termuat lontaran kata-kata jenaka dalam penyampaiannya.
Rebana merupakan musik pengiring dan dimainkan sendiri oleh salah satu diantara pelantun lagu Dide’. Biasanya Dide’ ditampilkan dengan 3 atau lebih pasangan laki-laki dan wanita.
Di saat sekarang, Dide kerap pula hadirkan pada acara seremonial pemerintahan. Jika anda berkunjung ke Kepulauan Selayar pada bulan November, Dide’ biasanya tampil pada acara ulang tahun Kepulauan Selayar yang dirayakan setiap 29 November.
Beberapa pemerhati budaya menilai, Dide’ adalah kesenian yang sudah dimainkan sejak beratus-ratus tahun lalu.
3. Tari Boda'
Tari Boda adalah salah satu kesenian tradisional Kepulauan Selayar yang hingga kini kerap dipentaskan pada acara – acara tertentu. Filosofi Tari Boda adalah ekspresi kegembiraan menyambut datangnya bulan purnama. Zaman dahulu, Tari Boda di mainkan oleh sejumlah anak kecil dengan nyanyian berbahasa Selayar.
Ciri khas Tari Boda adalah property berupa boda ( bambu ) yang dipukul berirama mengiringi tiap langkah dan gerak penari yang biasanya adalah anak laki – laki. Pada zaman dahulu, Tari Boda dimainkan biasanya dihalaman rumah atau di tanah lapang saat sinar purnama bersinar terang.
Pada acara seremonial di Kepulauan Selayar, tari ini kerap ditampilkan untuk menyambut tamu yang berkunjung ke Bumi Tanadoang. Dalam konteks kekinian, Tari Boda digambarkan sebagai luapan kegembiraan atas kedatangan tamu di kampung atau daerah yang dikunjungi.
Anak – anak yang memainkan Tari Boda, biasanya menggunakan celana sebatas lutut, baju dengan potongan hingga ke pangkal lengan dan sarung yang dililitkan di pinggang masing – masing penari.
Lagu yang dibawakan adalah ungkapan rasa senang dengan kehadiran datangnya bulan purnama. Pada zaman dahulu, kedatangan purnama biasanya menjadi kesempatan untuk bermain di malam hari atau melakukan ritual adat tertentu.
Jika suatu waktu anda berada di Kepulauan Selayar dan sedang berlangsung acara seremoni pemerintahan setempat, tari ini biasanya dipentaskan. Peringatan hari ulang tahun selayar yang jatuh pada 29 November, biasanya menjadi ajang di pentaskannya tari yang dimainkan oleh sekumpulan anak berusia belia..
4. Pa'raga



Paraga adalah atraksi kesenian rakyat yang dimainkan di banyak tempat di Sulawesi Selatan, salah satunya di Kepulauan Selayar. Paraga adalah aktivitas memainkan bola raga yang dilakukan secara berkelompok antara enam sampai sepuluh orang.

Filosofi permainan rakyat tersebut adalah arannu – rannu atau bersenang – senang setelah melakukan pekerjaan sehari – hari seperti berkebun atau melaut. Sebelum melakukan atraksi, para pemain biasanya membaca semacam mantra yang telah diajarkan turun temurun. Bacaan tersebut dilafalkan oleh seluruh pemain atau salah satu diantaranya.
Jika pada zaman dahulu kala atraksi ini dilakukan sebagai hiburan usai bekerja dan kemudian berkembang menjadi tarian untuk menyambut raja, saat ini biasanya dipertunjukkan pada pagelaran seni dan budaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Pa’raga dimainkan dengan formasi horisontal atau vertikal dengan membentuk piramida dimana salah seorang pemain yang berada di posisi teratas akan memainkan bola.
5. A'jala Ombong



A'jala Ombong adalah tradisi masyarakat Kecamatan Bontosikuyu yang menjadi simbol kegembiraan dan rasa syukur atas nikmat rezeki dari sang pencipta, terutama hasil laut dan perikanan. A'jala Ombong secara harafiah artinya menjala ikan secara beramai – ramai.

Pada saat acara seluruh peserta yang terdiri dari warga setempat mulai anak – anak hingga orang dewasa membawa alat tangkap masing – masing untuk kemudian beramai – ramai menangkap ikan yang terdapat pada perairan dangkal di pesisir pantai. Acara dimulai ketika air laut pasang dan diakhiri ketika surut.
Acara diawali dengan ritual pembacaan doa dan mantra yang dipimpin tetua kampung. Ada juga sajian makanan khas yang menjadi pelengkap ritual adat yang digelar di Pantai Sangkulu – Kulu Desa Harapan Kecamatan Bontosikuyu, sekitar 25 km arah selatan kota Benteng, Ibukota Kepulauan Selayar itu.
Acara diakhiri dengan mengkonsumsi ikan hasil tangkapan masing – masing ditempat yang sama. Tidak salah jika acar ini juga kerap diartikan sebagai lambang kebersamaan dan persatuan masyarakat kampung. Setiap tahunnya, acar A'jala Ombong dilaksanakan pada sekitar bulan Agustus.
6. A'dinging-dinging



Dari segi bahasa, A’dinging – Dinging dapat diartikan sebagai aktivitas saling siram sehingga orang – orang yang melakukannya merasakan dingin karena terpapar air berkali – kali. Namun secara filosofi, ritual A’dinging – Dingin adalah kegiatan yang dilakukan untuk menolak bala dengan air yang disiramkan kepada sesorang dan seisi kampung.
A’dinging – Dinging adalah salah satu aktivitas budaya berbasis kearifan lokal yang dilakukan di salah satu dusun di Kepulauan Selayar, yakni di Dusun Tenro kecamatan Bontomatene. Sekitar 25 km dari kota Benteng ibukota Kepulauan Selayar.
Secara umum tahapan A’dinging – Dinging adalah mengambil air dari sebuah sumur tua di tengah – tengah kampung, air tersebut kemudian diberi mantra oleh tetua kampung untuk selanjutnya disiramkan kepada seluruh penduduk kampung, termasuk warga luar kampung yang kebetulan berada di dusun Tenro.
Selain ritual siraman, A’dinging – Dinging juga diikuti dengan atraksi seni dan budaya serta permainan rakyat Kepulauan Selayar seperti Attojeng ( bermain ayunan ), atraksi bela diri Manca’ Pa’dang, penampilan lagu Dide’ dan beberapa kegiatan lainnya.
Diujung acara, seluruh warga dan para pengunjung akan disuguhi oleh berbagai makanan tradisional, termasuk nasi yang tidak hanya berasal dari berasa tapi juga dari bahan jagung, umbi – umbian dan kacang – kacangan.
Seluruh rangkaian ritual A’dinging – Dinging memiliki makna dan pesan tertentu. Ada ungkapan rasa syukur, penghormatan kepada Sang Pencipta dan para leluhur serta permohonan keselamatan kepada Tuhan YME.
Dusun Tenro berada di sebelah utara kota Benteng dan dapat ditempuh dengan perjalanan selama 30 menit Ritual A’dinging – Dinging sendiri di gelar setiap tahun dan biasanya di lakukan diakhir tahun. Jika sedang berada di Kepulauan Selayar, kegiatan tahunan ini bisa menjadi salah satu destinasi.
7. Tradisi lesung


LESUNG merupakan salah satu simbol prinsip kehidupan sederhana di kalangan masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, dengan ciri khasnya sebagai komunitas masyarakat pedalaman yang masih sangat mempertahankan dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat-istiadat serta  tradisi warisan leluhur mereka.
Bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, lesung atau yang dalam bahasa lokal setempat dikenal dengan sebutan “assung” lebih banyak digunakan penduduk pedalaman terpencil maupun perkotaan sebagai alat tumbuk tradisional terutama untuk mengolah beras menjadi tepung, pembuatan bahan baku makanan tradisional sejenis beras jagung atau te’te. Tepung yang akan diolah dituangkan ke dalam lobang lesung dan selanjutnya ditumbuk dengan menggunakan bantuan peralatan berupa alu atau sejenis kayu tebal.

Salah satu hal yang menarik, sebab lesung di Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki perbedaan bentuk yang sangat kontras dan unik jika dibandingkan dengan kebanyakan lesung di Pulau Jawa dan beberapa wilayah di sekitarnya. Bentuk lesung di Kabupaten Kepulauan Selayar yang berdiri tegak dan hanya dapat digunakan oleh maksimal dua orang warga masyarakat menjadikan lesung ini berbeda dengan kebanyakan lesung-lesung di daerah lainnya di Indonesia.
8. Tradisi Ngarra' Pandang/Ambelu'.
Secara bahasa Ngarra' dalam bahasa indonesia yaitu mengiris sementara pandang yang dimaksud disini adalah daun pandan. Tradisi Ambelu'(Ngarra' Pandang) adalah salah satu bentuk kebudayaan dari Selayar yang dilakukan pada saat pelaksanaan Maulid Nabi. Kegiatan ini dilakukan secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan disebut sebagai Ambelu' sedangkan laki-laki disebut sebagai Ngarra' Pandang. Sang Perempuan bertugas untuk memasukkan daun pandan ke dalam sebilah bambu yang disebut dengan Balehang dan diberikan kepada sang lelaki. Sementara sang lelaki bertugas untuk mengiris pandan yang berada di Balehang. Setelah daun pandan selesai diiris maka Balehang akan diserahkan kembali kepada sang wanita. Biasanya pemain laki-laki digantikan oleh pemain laki-laki yang lain jika ada yang mau sementara pemain perempuan tidak akan digantikan. Pelaksanaan kegiatan ini diiringi dengan kegiatan barazanji. Ketika bacaan barazanji telah selesai maka selesai pulalah kegiatan ini.

Sekian dulu yah Guys untuk ulasan kami mengenai Kebudayaan di Kabupaten Kepulauan Selayar. Kemungkinan masih terdapat beberapa budaya yang belum sempat kami tahu atau belum sempat kami tuliskan. Maka dari itu kami tetap meminta saran atau pun kritik dari teman-teman terhadap tulisan kami.. 

AYO KE SELAYAR .......





 


Sekilas tentang Budaya di Kabupaten Kepulauan Selayar - Part 1





Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan salah satu daerah yang berada di Provinsi Selatan. Sesuai dengan namanya Kabupaten ini terdiri dari beberapa gugusan pulau. Lokasi dari kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat melalui gambar di bawah. Daerah ini memiliki kekhususan yakni satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan Sulawesi dan terdiri dari gugusan beberapa pulau sehingga membentuk suatu wilayah kepulauan. Gugusan pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar secara keseluruhan berjumlah 130 buah, 7 di antaranya kadang tidak terlihat (tenggelam) pada saat air pasang. Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar meliputi 1.357,03 km² wilayah daratan (12,91%) dan 9.146,66 km² wilayah lautan (87,09%). Secara geografis, Kabupaten Kepulauan Selayar berada pada koordinat (letak astronomi) 5°42' - 7°35' Lintang Selatan dan 120°15' - 122°30' bujur timur.
Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki salah satu tempat yang sangat dikenal oleh banyak orang bukan hanya dalam negeri tapi juga dalam manca negara yaitu Taman Nasional Taka Bonerate. Bagaimana tidak di tempat inilah letak karang atol terbesar ke-tiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan St Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Maldives. Luas atol tersebut sekitar 220 ribu hektare, dengan terumbu karang yang tersebar datar seluas 500 kilometer persegi. Tempat ini merupakan objek wisata bahari natural.
Namun dalam kesempatan ini admin tidak akan terlalu banyak menulis tentang tempat wisata tersebut, namun lebih memperkenalkan beberapa budaya yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Selayar. Kenapa? karena jika dilihat kembali pada perkembangan dzaman yang kian modern beberapa budaya bukan hanya di Selayar, sudah mulai luput dari perhatian massa dan tidak menutup kemungkinan akan terlupakan dalam beberapa puluh tahun ke depan. Di Kabupaten Kepulauan Selayar sendiri ada beberapa budaya yang meerlukan perhatian mulai dari dalam bentuk tari, lagu, dan beberapa budaya yang lainnya. Untuk mengetahui lebih jelas lagi silahkan lanjutkan membacanya dalam tulisan dibawah ini.
1. Tari Pangaru


Tari pangaru atau disebut juga hanaria pangaru merupakan tarian yang berasal dari Desa Sanbali, Kecamatan Pasinamaru Kabupaten Kepulauan Selayar. Tari panaru merupakan tarian magis, karena setiap gerakan para penarinya sangat berbahaya dengan menyayat bagian tubuh dengan menggunakan badig, keris, atau senjata tajam khas selayar .
Tarian ini diiringi oleh beberapa alat musik tradisional seperti gendang, gong dan alunan pui – pui. Iramanya yang khas dapat membangkitkan emosi para penari hingga tak sadarkan diri, para penari pun menusuk atau menyayat tubuh mereka dengan badig. Biasanya terdapat beberapa penonton yang ikut masuk ke dalam arena tari dan ikut melakukan tarian ini meskipun resikonya cukup berbahaya karena menggunakan senjata tajam. Meski demikian sangat jarang ada yang terluka meski terkena senjata tajam. Di akhir sesi biasanya dilanjutkan dengan adegan beladiri antara dua orang penari yang biasanya disebut dengan Kontau.
Selain penari terdapat juga dayang – dayang, pemimpin adat, dan para pemain music. Dan uniknya mereka menggunakan pakaian khas kerajaan. Tarian ini tercipta karena ungkapan rasa syukur kepada allah SWT dan rasa gembira atas ditemukannya sumber air untuk kehidupan masyarakat sekitar. Seiring dengan perkembangan jaman, Tari Pangaru pun dimodifikasi menjadi sebuah tarian hingga tradisi turun menurun yang senantiasa digelar pada acara – acara pesta.
2. Tari Pakarena Gantarang


Selain tari pakarena yang selama ini dimainkan oleh maestro tari pakarena Maccoppong Daeng Rannu (alm) di kabupaten Gowa, juga ada jenis tari pakarena lain yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu “Tari Pakarena Gantarang”. Disebut sebagai Tari Pakarena Gantarang karena tarian ini berasal dari sebuah perkampungan yang merupakan pusat kerajaan di Pulau Selayar pada masa lalu yaitu Gantarang Lalang Bata. Tarian yang dimainkan oleh kurang lebih empat orang penari perempuan ini pertama kali ditampilkan pada abad ke 17 tepatnya tahun 103 saat Pangali Patta Raja dinobatkan sebagai Raja di Gantarang Lalang Bata
 Tari Pakarena Gantarang diiringi alat music berupa gendang, kannong-kannong, gong, kancing dan pui-pui. Sedangkan kostum dari penarinya adalah, baju pahang (tenunan tangan), lipa’ sa’be (sarung sutra khas Sulawesi Selatan), dan perhiasan-perhiasan khas Kabupaten Selayar. Tahun 2007, Tari Pakarena Gantarang mewakili Sulawesi Selatan dan Indonesia pada Acara Jembatan Budaya 2007 Indonesia–Malaysia di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC).
3. Manca Pa’dang dan Kongtau



Manca pa’dang merupakan kesenian bela diri yang menggunakan alat pertahanan diri berupa pedang dan diiringi alat music tradisional yang disebut pui – pui, Alat music pui- pui ini dimainkan dengan cara ditiup. Selain alat music pui – pui ada alat music lainnya seperti gendang dan gong. Ketiga alat music ini dimainkan dengan cara bersamaan sehingga menghasilkan music yang indah. 
Manca pa’dang biasanya ditampilkan pada upacara pernikahan atau pesta – pesta lainnya seperti upacara penyambutan tamu. Hal ini dipercaya kampung dalam keadaan aman, manca pa’dang sudah ada di selayar sejak kerajaan Gantarang Lalang Bata. Kerajaan yang berkuasa di selayar ketika itu kurang lebih sekitar abad 14 hingga abad 15.
Selain manca pa’dang ada kesenian bela diri yang tak jauh berbeda, namun bela diri yang satu ini tidak menggunakan senjata dan dikenal dengan sebutan kongtau. sudah ada di selayar sejak tahun 1980an yang dibawa oleh para penjajah.Seperti halnya manca pa’dang, kongtau pun sering ditampilkan pada pesta pernikahan ataupun penyambutan tamu.
4. A’tojeng

A’tojeng yang dalam bahasa selayar berarti ayun, kebudayaan yang satu ini menggunakan sejenis alat berupa ayunan raksasa yang cara memainkannnya diayun sekuat tenaga. Dan alat ayunan pun berbeda pada umumnya, bahan – bahan yang digunakan dalam membuat ayunan raksasa ini diantaranya adalah kayu, bamboo, akar pandita sejenis tumbuhan merambat yang digunakan untuk mengikat setiap ruas pada tiang – tiang setiap ruas, dan tak lupa tali penyangga, Tinggi tiang penyangganya sekitar 5 hingga 9 meter.
A’tojeng ada sekitar tahun 1600an pada saat raja dan pasukannya pulang dari medan perang, Dan untuk mengungkapkan rasa gembira mereka lakukan dengan cara bermain ayunan. . Biasanya a’tojeng pun ditampilkan sambil membacakan pantun khas selayar dengan pemain menggunakan baju khas selayar yang dikenal dengan sebutan baju lakhwu. 
5. Batti'-batti'

Budaya lainnya yang tak kalah menarik dari kepulauan selayar adalah batti' – batti'. Batti'–batti' merupakan tarian tradisional berbalas pantun, diiringi alat music tradisional seperti gambus dan rebana. Dan kesenian Batti'–batti' ini muncul pada tahun 1950, ketika itu kesenian ini dibawa oleh pelaut yang singgah di pantai Selayar.
Uniknya, pantun yang dikeluarkan oleh para penyanyi ini diucapkan secara spontan tanpa teks atau naskah. Sehingga hanya orang yang mampu berfikir secara cepatlah yang bisa menjadi penyanyi Batti'-batti'. Batti'-batti' biasanya dinyanyikan semalaman suntuk, mulai dari isyak hingga terbitnya sang fajar.
Batti'-batti' biasnya digelar pada pesta pernikahan ataupun acara pesta lainnya. Ada yang unik dari kesenian Batti'-batti' ini, keunikannya terlihat dari alat music gambusnya. Diujung alat music ini terdapat cermin yang dulu digunakan untuk melihat lawan jenis, karena waktu itu bertatap muka secara langsung dianggap tabu. Jadilah kini setiap pembuatan gambus terdapat cermin diujungnya.


Untuk mengetahui budaya yang lainnya di Kabupaten Kepulauan Selayar silahkan menunggu artikel dengan judul Sekilas Budaya di Kabupaten Kepulauan Selayar Part 2