Showing posts with label Tales. Show all posts
Showing posts with label Tales. Show all posts

Friday, November 10, 2017

Sahabatku dalam Pelukan Merah dan Putih





Dalam keheningan malam terhembus angin begitu lembut. Itu cukup memberikan suasana dingin untuk seorang anak kecil yang sedang berdiri di ujung sebuah dermaga pelabuhan Desa Ujung, salah satu desa di pelosok negeri. Sosok anak kecil itu bernama Ram, dan aku adalah sahabatnya. Malam itu aku sendiri hanya berada di serambi rumah panggungku yang terletak pingir pantai. Aku enggan keluar rumah dengan cuaca seperti itu. Aku berbeda dengannya yang sudah terbiasa dengan dingin malam di penghujung dermaga. Bukan hanya itu saja perbedaanku dengannya, masih banyak hal lainnya. Dan  aku hampir lupa, namaku Raf. Aku duduk di bangku kelas sembilan, sama seperti sahabatku itu.
Pagi hari seperti biasanya aku terbangun sebelum matahari menampakkan senyumnya. Aku bergegas kembali menuju serambi rumah. Tempat yang sama ketika malam aku memandangi sahabatku  di ujung dermaga, Ram. Tak lama aku duduk disana, sinar mentari menyoroti mataku yang masih hendak terlelap. Namun inilah yang kutunggu. Pemandangan indah di setiap paginya, tak pernah membuatku bosan sekalipun. Menunggu waktu mandi pagi yang tepat. Setelah semuanya siap, aku berangkat untuk menemui teman-temanku di sekolah khususnya sahabatku si Ram.
“Raf!. Tungguin aku!” Suara yang sangat kukenali. Itu Ram.
“Raf, lo tau nggak, tadi malam aku senang banget duduk di ujung dermaga”. Ram membuka topik percakapan kami pagi itu sembari berjalan menuju ke sekolah dengan logat Betawi meskipun tak seluruhnya. Mungkin karena Ram sudah lama tinggal di kampung ini.
“Apa kita’ bikin di ujung dermaga?. Sendirian ki saya lihat. Tidak dingin jaki?” tanyaku dengan logat daerahku, Makassar.
Nggak kok Raf. Aku malah lebih suka berada disana akhir-akhir ini. Membayangkan betapa luasnya negeri kita dan betapa indahnya alam yang ia miliki. Raf, aku juga berharap semoga saja di hari esok semua orang di Negeri kita tercinta ini tetap saling menghargai perbedaan di tengah-tengah kita. Yah, seperti kebanyakan orang di kampung kita ini Raf. Lo sendiri dari Makassar, gue dari betawi. Agama kita juga berbeda Raf. Gue harap kita tetap sahabat sampai ajal itu datang”. Ram menjelaskan dengan serius pagi itu.
Tanpa disadari kami sudah berada di depan pintu kelas kami. Aku tak sempat lagi membalas perkataan Ram. Kami bergegas menuju tempat duduk masing-masing. Hari ini jam pelajaran pertama adalah Pendidikan Kewarganegaraan. Pelajaran favoritku dengan sahabatku.
“Baik anak-anak, hari ini kita tidak bisa belajar bersama dengan lama karena sekolah kita sedang melaksanakan rapat mengenai persiapan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Jadi, sebagai tugas pengganti, kita akan membuat perlombaan drama tentang Kemerdekaan. Kalian setuju?”. Guru kami telah menjelaskan.
Semua siswa mengangguk.”Setuju Bu!”
“Raf, gue punya ide. Kita akan membuat drama yang mengisahkan masyarakat yang berbeda suku dan agama tapi punya rasa persatuan yang tinggi. Kisah yang mirip seperti kisah persahabatan kita Raf.” Ram mulai menjelaskan idenya.
Aku setuju saja dengan hal itu karena sepertinya itu ide yang cukup menarik. Bertepatan dengan maraknya kejadian di tengah-tengah masyarakat akhir waktu ini. Isu kaum mayoritas dan minorita dalam berbagai hal, agama misalnya. Setidaknya kami yang berada di pelosok desa bisa memberikan bukti kecil bahwa perbedaan bukanlah tolak ukur untuk menghargai orang lain. Hanya karena berbeda suku ataupun agama lalu tidak menghargai satu sama lain. Hal seperti itu adalah kekeliruan dalam bermasyarakat.
Setelah membicarakan ide itu kami pulang ke rumah masing-masing dan akan bertemu lagi seusai makan siang.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 WITA. Aku bergegas ke serambi rumahku kembali memandangi lautan biru yang luas itu. Tak lama duduk disana kudengar suara keributan tak jauh dari rumahku. Aku bergegas ke tempat keributan itu berasal. Dan alangkah terkejutnya...
Itu temanku, Ram. Terkapar di tengah jalan dengan darah di kepalanya. Ia baru saja mengalami kecelakaan. Sebuah truk pengangkut pasir menabrak tubuh sahabatku tercinta. Tak mampu aku melihatnya lama disana. Aku segera melompat kesana. Kusandarkan ia di badanku sambil kupeluk tubuhnya. Saat itu ia sedang membawa sebuah kain berwarna merah dan putih. Itu bendera kebanggaan negaraku. Sang Saka Merah Putih. Ram menggenggamnya dengan kuat. Itu bendera yang akan kami pakai untuk latihan drama siang ini.
Dengan napas tersengal-sengal, Ram berbisik kepadaku." Raf, jaga bendera ini sebagai tanda bahwa kita masih tetap bersahabat meski perbedaan itu ada. Buktikan kepada orang lain tentang persahabatan itu. Aku sekarat Raf. Mungkin hanya engkau yang akan tetap memperjuangkan itu. Aku percaya padamu".
Aku tak dapat berucap sepatah katapun. Tanpa kusadari air mataku mengalir begitu derasnya. Ram masih bisa meraih pipiku. Mengusap air mataku itu. Sebelum akhirnya ia harus menghembuskan napas terakhirnya dalam pelukan Merah Putih.
Semuanya terasa berlalu dengan cepat. Kini aku hanya bisa memandangi ujung dermaga. Tak ada sahabatku disana. Hanya bendera merah putih yang sengaja kuikat di ujung dermaga dengan sebuah tiang bambu runcing berkibar dengan gagahnya. Itu semua untuk mengenang sahabatku tercinta, Ram, yang bersedia dengan lantang menjaga keberagaman negeri tercinta ini. Aku yang akan melanjutkan perjuangannya. Mewujudkan mimpi-mimpinya dan harapannnya. Itulah mimpi seorang sahabat kecilku, Bhineka Tunggul Ika, berbeda-beda tetapi tetap Satu.


Thursday, May 25, 2017

Kau dan Aku_Kita, Sahabat

Setelah sekian lama waktu berlalu begitu cepatnya , jemari ini begitu terasa kaku untuk menyentuh tombol berlabel huruf dan angka di depan layar komputer ini. Begitu tersiksa rasanya bila tiba-tiba hati ini memaksa imajinasi melahirkan kata demi kata untuk termuat dalam teks yang entah akan bagaimana jadinya. Mengapa demikian? Yah mungkin saja karena waktu berlalu begitu cepatnya hingga lupa bagaimana dulu saya menyentuhkan jari-jari ini melahirkan cerita panjang meski tak begitu berharga dalam pandangan orang lain, tulisan yang jauh di bawah kualitas rata-rata. Tapi saya selalu mengingat kata seorang sahabat yang sekarang ia satu tingkat di bawahku di bangku perkuliahan, “Jangan fikirkan apa yang akan kau tuliskan tapi tulislah apa yang ada dalam fikiranmu” katanya. Ia bilang itu pesan dari gurunya. Dan begitulah, saya mengingat pesannya begitu pun orangnya karena saya telah mengukir namanya dalam deretan nama sahabat-sahabatku, mengukir bukan dalam kertas namun dalam hati yang tak begitu mudahnya akan terhapus. Namun meskipun begitu sulitnya melanjutkan tulisan ini, saya akan tetap mencobanya, mencoba sebisanya.
Bicara tentang sahabat, agak risih saya dengar untuk terlalu mengungkapkan stasusnya. Kenapa? Karena sewaktu kecil mengenali kata sahabat pun tidak terlalu saya dalami tetapi saya bisa menghabiskan waktu berlama-lama bersama dengan teman-teman masa kecil. Meskipun hari ini mereka membuatku menangis tapi mengapa esoknya saya bisa mencari mereka lagi untuk saya ajak bermain bersama. Entah hari ini mereka menghina orang-orang yang saya anggap adalah keluarga tapi esoknya masih sama, saya pun akan tetap mencarinya untuk bermain bersama. Indah bukan? Meski kita tak mengenal arti sahabat sedikitpun, tapi kita begitu menikmati masa kebersamaan itu. Entah kapan, masa peralihan itu berlangsung hingga saat ini saya melihat dengan mata kepala sendiri, kita yang biasanya mampu menjelaskan arti kata sahabat sampai mulut berbusa tak bisa memaknai atau pun menikmati ikatan persahabatan itu seperti masa kecil kita. Sahabat itu bukan sekedar kata yang harus ditafsirkan, sahabat itu dimana kita mampu saling menikmati waktu bersama-sama dalam suka-duka, lapang-sempit, bahagia-derita dan segala macamnya, itu kata seorang sahabatku juga, Ia sahabat saya dari kelas 1 SMP yang tak jarang punya pandangan berbeda dengan saya. 
Menuliskan pesan-pesan berharga dari seorang sahabat mungkin bisa melahirkan banyak karya tulisan. Karena apa? Mereka selalu punya pesan bijak yang entah datangnya dari mana dan bentuknya seperti apa. Ketika masalah dihadapkan pada beberapa orang termasuk kita yang punya ikatan persahabatan, tanpa kita sadari akan melahirkan begitu banyak cara berbeda untuk menyelesaikannya. Kadang pun beberapa cara yang berbeda itu akan melahirkan lagi masalah baru atau pun solusi baru. Menanggapi perbedaan dengan cara yang tidak semestinya begitu sering terjadi saat berada dalam kondisi seperti itu.
Memutuskan ikatan persahabatan adalah akibat paling fatal menurut saya ketika menghadapi perbedaan dalam menanggapi masalah. Dan itu nyata adanya. Jika saya diperbolehkan memilih masa, saya lebih ingin melihat ikatan persahabatan itu seperti masa kecil kita yang memaafkan perbuatan orang lain kepada kita dengan mudahnya. Andai saja itu bisa kembali, tapi tidak. Tak pernah saya melihat seorang manusia dalam dunia nyata bisa mengulang waktu sekarang ke waktu sebelumnya bahkan sepersekian detik pun itu tak bisa. Jika pun kita mengalami beberapa kejadian yang kita merasa pernah melakukannya, mungkin kita berfikir bahwa ini adalah pengulangan waktu dan kita sedang berada di masa lalu tapi menurut saya tidak itu hanyalah kejadian yang orang menamainya, de javu_kejadian yang menurut kita pernah dilakukan sebelumnya. Itu bukanlah pengulangan waktu. Kita sama-sama sadar bahwa waktu tak bisa diulangi lagi, mustahil menurut saya kecuali itu mukjizat dari Yang Maha Pencipta. Jika demikian lalu bagaimana kita bisa mengalami hal seperti masa kecil kita? Masa dimana kita tak begitu mengenal arti kata persahabatan namun lebih bermakna ikatan sahabatnya dibandingkan dengan kita sekarang yang dianggap akan mampu lebih dewasa dalam bersahabat.
Beberapa orang bisa menjawab persoalan itu dan saya pun memiliki jawaban sendiri perihal itu. Setelah mencari kesana kemari dalam memori kepala, saya menjawab: itu adalah persoalan “maaf”. Itu ialah persoalan utama menurut saya. Kenapa saat ini kita cenderung mengabaikan ikatan persahabatan itu? Karena kita mudah tersinggung dan sulit memaafkan ketika seseorang melakukan hal yang salah di mata kita. Kita tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Mestinya, jika kita mudah tersinggung kita lebih mudah memaafkan. Maaf itu bukan sekedar kata. Maaf itu membuat kita melupakan kesalahan seorang sahabat di kala ia khilaf atau melakukan perbuatan yang membuat kita merasa terluka atau semacamnya. Lihatlah masa kecil kita dan bandingkan dengan sekarang. Semasa kecil seperti yang saya katakan tadi kesalahan orang lain bisa dengan mudahnya dimaafkan, meski kadang kita juga punya istilah “bombe’(musuh)” tapi itu tak pernah berlangsung lama. Kadangkala ketika seorang teman memiliki makanan dan tak mau membaginya kepada teman yang lain disitulah teman yang tak kebagian akan menganggap orang yang punya makanan adalah bombe’nya. Tapi tak bisa dielakkan itu hanya terjadi saat itu saja. Setelah beberapa saat kita akan kembali bermain bersama seperti biasanya. Bandingkan dengan sekarang!. Bahkan hanya pada sebuah persoalan salah paham, salah ucap, itu membuat akar permasalahan yang baru dan begitu susah untuk saling memaafkan.
Lalu pertanyaan berikutnya apakah benar, seiring bertambahnya usia bertambah pula kedewasaan kita menyikapi sesuatu? Jawablah sendiri!.
Kita tau bersama waktu berlalu begitu cepatnya dan untuk saya sendiri, jumlah manusia yang saya ukir dalam deretan nama-nama sahabat sudah tak terhitung jumlahnya. Entah apa yang membuat beberapa orang masih tetap memilih berada disamping saya , menyediakan tangan untuk dijabat ketika saya jatuh dan tersungkur. Jika alasannya karena mereka ingin memanfaatkan saya, semestinya sudah tak ada yang akan bertahan sebagai seorang teman dengan saya karena tak ada yang bisa mereka manfaatkan dari saya sendiri, saya serba kekurangan. Orang yang masih bertahan diantara kita dalam keadaan apapun itulah yang akan kita sebut sahabat. Mereka yang mampu mengerti bagaimana rasanya ketika mereka berada di posisi kita. Yah, begitulah sahabat mereka mampu membuat diri mereka merasakan apa yang kita rasakan. Kenapa beberapa orang saat ini saling memutuskan ikatan sahabat itu,?  Jawabannya karena persoalan itu, kita tidak mampu menempatkan diri kita dalam diri sahabat-sahabat itu. Kita bicara seakan hanya kitalah yang pantas untuk dihargai. Kita tak berfikir bagaimana jika ia yang berbicara seperti itu kepada kita. Kita melupakan semua itu.
Tentu untuk orang-orang yang telah pantas menyandang status manusia dalam usia dewasa seperti kita, adalah sebuah keharusan untuk menjaga ikatan berharga itu. Kita bukanlah anak kecil yang kadang berteman kadang tidak , kita harus lebih dewasa tentunya. Jika terjadi hal yang tidak nyaman dalam ikatan itu, mesti itu selesai secepat mungkin. Jika tidak atau hanya menimbulkan masalah baru yang tak wajar, bukannya kita lebih dewasa seiring pertambahan waktu tapi lebih kekanak-kanakan dari waktu ke waktu.
Perbedaan pun kerap kali tak bisa diterima dengan bijak. Mungkin kita tak menyadari bahwa perbedaan adalah kodrat manusia. Entah itu perbedaan dalam hal fisik atau pun cara berfikir. Perbedaan dalam hal fisik, ekonomi misalnya, layaknya mengajarkan kita arti salin berbagi. Bagaimana ketika seorang sahabat mengalami kesulitan ekonomi maka sahabat lainnya yang akan memudahkan kesulitan itu. Tidak menerima perbedaan adalah sikap paling konyol dalam pribadi seorang manusia. Bagaimana jika kita semua terlahir sebagai orang yang kaya? Siapa yang ingin jadi petani? Siapa yang ingin jadi nelayan? Siapa yang ingin melakukan semua hal yang dianggap tak pantas dikerjakan oleh orang tergolong kaya?. Jadi sudahlah perbedaan itu adalah hal yang memperindah ikatan ini. Perbedaan bukanlah lagi hal yang mesti sering kita suarakan saat-saat kita bertemu, perbedaan bukanlah sesuatu yang harus kita nampakkan. Karena kapan perbedaan itu dimunculkan sedikit saja dan kita tak bisa menyikapinya, tunggulah kehancuran ikatan itu.

Mengungkapkan arti persahabatan tak sebanding sinetron ”arti sahabat”, makna persahabatan bukanlah sesuatu yang bisa diungkapkan dalam sebuah drama, bukan dalam sebuah buku, apalagi dalam tulisan tak bermakna ini. Sahabat itu maknanya jauh dari yang sekedar bisa diungkapkan. Sahabat itu ketika kita saling berjabat/berpelukan dan terasa energi antara seorang sahabat dengan sahabat lainnya terasa meningkat begitu besar, bahkan lebih dari itu. Saling mengajak pada jalan yang baik dan mengingatkan pada hal buruk, dan masih banyak lagi.
Di penghujung tulisan ini saya harus menyatakan bahwa tulisan ini lahir sebagai tulisan yang meski tak berarti namun saya tuliskan untuk sahabat-sahabat saya, sahabat dari kampung tercinta dari kecil hingga saat ini, sahabat seangkatan 015 SMANSA PASTIM(Tak sedarah namun bersaudara), sahabat Res15stor, sahabat  yang lebih tua dari saya, sahabat yang saya anggap sebagai adik-adik saya, serta sahabat-sahabat lainnya yang tak bisa saya sebutkan semuanya. Beberapa dari kalian telah saya kenal sejak lama dan beberapa diantaranya masih tergolong baru. Awalnya saya kurang percaya diri karena tulisan ini tak punya kualitas yang menyamai tingkatan rata-rata, masih jauh di bawahnya tapi biarlah, karena sebagian dari kita belum terlalu paham akan makna sahabat itu sendiri bahkan saya pun sendiri. Anggaplah saja ini pemberian sederhana atau apapun itu.
Meskipun awalnya saya memilih untuk kembali mengulang masa kecil jika pilihan itu ada, namun saya berfikir bahwa: bagaimana jadinya jika hal itu akan seperti itu saja?. Bagaimana kita bisa saling mengenal dengan yang lain jika hanya berada pada waktu yang stagnan?. Hal yang tak perlu berubah adalah segala hal yang tetap mempererat jabat tangan kita atau semakin mempererat ikatan persahabatan. Namun, saya memilih waktu sekarang. Waktu yang telah melewati waktu sebelumnya yang membuat kita sekarang saling kenal satu sama lain serta saling memahami satu sama lain. Saya memilih waktu yang sekarang, waktu yang membuat kita akan selalu memulai langkah baru secara bersama-sama. 
Lihatlah beberapa gedung disekitar kita, apakah ia tersusun atas satu material? Apakah hanya berupa pasir, hanya berupa semen hanya berupa air, atau pun hanya berupa besi? Tidak kan? Mereka adalah materi yang berbeda, mereka menyatu dalam satu kesamaan tujuan, yaitu membuat bangunan itu berdiri kuat dan kokoh meskipun mereka adalah material berbeda. Lalu, tidakkah kita ingin seperti itu? Membangun sebuah ikatan yang sangat kuat, menerima perbedaan dalam segala hal, dan menyatu dalam satu bingkai kesamaan tujuan, itulah “persaudaraan tanpa batas”. Saya harap kita sama :). .sekian. Terima kasih untuk yang membaca sampai akhir.. 

Saturday, April 15, 2017

Cerita Pendek Penuh Makna



1. Lilin Kecil

Alkisah ada dua orang mahasiswa yang sedang sibuk belajar. Sebut saja Si Putih dan Si Hitam. Besok ujian akhir semester tetapi mereka belum belajar sama sekali. Malamnya mereka belajar mati-matian untuk mengahadapinya. Namun alangkah sialnya, malam itu tiba-tiba mati listrik. Kabel listrik di dekat rumah mereka putus tertimpa pohon.

Si Putih marah-marah tidak karuan. Dia menyalahkan segala sesuatu yang menyebabkan ini terjadi. Mulai dari PLN yang lama mengatasinya. Pemkot yang tidak mengantisipasi kejadian tersebut dan menebang pohonnya terlebih dahulu. Menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memperbaiki kabel itu sendiri. Dan sebagainya. Malam itu dia sama sekali tidak bisa belajar. Tetapi apa yang dilakukan SI Hitam malam itu? Mudah saja. Dia menyalakan lilin.

Memang bukan matahari yang dapat menerangi seisi dunia. Namun lilin kecil sudah cukuplah untuk menghiasi kegelapan dengan cahaya. Dari pada mengutuki kegelapan dan menunggu datangnya pagi, lebih baik menyalakan lilin untuk menghilangkan kegelapan.

Engkau lilin-lilin kecil
sanggupkah kau mengganti
sanggupkah kau memberi seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
sanggupkah kau berpijar
sanggupkah kau menyengat seisi dunia
(Chrisye)
Sumber :Catatan Bangsa Yang Aneh

2. Sepotong Roti

Ada seorang wanita yang membuat roti untuk makanan keluarganya setiap hari. Setiap harinya, wanita ini membuat roti ekstra untuk diberikannya pada orang lain yang kebetulan melewati rumahnya. Dia meletakkan roti itu pada jendela rumahnya untuk siapa saja yang ingin mengambil roti tersebut.

Setiap hari, ada orang yang sudah bungkuk datang dan mengambil roti itu. Tetapi, bukannya mengucapkan terima kasih dan menunjukkan keramahan, pria itu malah menggerutu sejumlah kata yang selalu dia ucapkan setiap hari. Beginilah kira-kira ucapannya: "Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu."

Hal ini berlangsung secara terus-menerus, hari demi hari. Pria bungkuk itu selalu datang dan mengambil roti seraya mengatakan sesuatu dengan mengucapkan, "Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu." Wanita itu merasa sebal dengannya,"Bukannya berterima kasih..," katanya dalam hati.

'Setiap hari pria itu mengatakan hal yang sama, apa maksudnya?' pikir wanita itu.Suatu hari, tiba-tiba dia memiliki keinginan untuk menyingkirkan pria bungkuk itu. Dia berniat membuat roti dengan racun di dalamnya. Tetapi, ketika akan meletakkannya pada jendela, dia gemetar dan tersadar. "Apa yang telah aku lakukan?" katanya. Roti itu akhirnya dibakarnya habis dan dia menggantinya dengan roti biasa. Seperti hari-hari sebelumnya, pria itu datang lagi dan tetap mengatakan hal yang sama, tidak menyadari peperangan batin dalam wanita itu.

*******
Putra wanita itu pergi merantau jauh dari tempat tinggalnya. Dan sudah berbulan-bulan dirinya tak mendapatkan kabar tentang keberadaan putranya itu. Wanita ini terus berdoa agar putranya diberi keselamatan dan dapat kembali padanya.


Malam itu, pintu rumahnya diketuk dari luar, wanita itu pun membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat sang anak berdiri dihadapannya. Anaknya itu terlihat sangat kurus dan lemah, rupanya dia kelaparan.

Sang anak menatap ibunya dan berkata,"Ibu, ini keajaiban. Ketika aku masih jauh dari sini, aku kelelahan dan pingsan. Aku mungkin akan mati kelaparan, tetapi pada saat itu ada orang bungkuk datang melintas dan memberiku sebuah roti," ungkap sang anak. Pria itu berkata," Ini yang aku makan setiap hari. Hari ini aku harus memberikannya padamu karena kamu lebih membutuhkannya daripada aku."

Kemudian seketika wajah ibunya memucat dan tersandar di tembok.Dia teringat akan roti beracun yang hampir saja dia berikan pada orang bungkuk itu pagi tadi. Andai saja dia memberikannya pada orang bungkuk itu, tentu anaknya lah yang akan dia racuni dengan tangannya sendiri. Akhirnya dia menyadari arti kata yang selalu diucapkan pria bungkuk itu,"Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu."

Sumber : Vemale.com

3. Mungkin Ini Pernah Kamu Dengar

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan ia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun ia keheranan kenapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh?”
Belalang itupun menjawabnya, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup dialam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang selama ini membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas

********

Kadang-kadang kita sebagai manusia tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman, atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah kamu separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih untuk mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tidakkah kamu pernah mempertanyakan kepada hati nurani bahwa kamu bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau kamu mau menyingkirkan “kotak” itu? Tidakkah kamu ingin membebaskan diri agar kamu bisa mencapai sesuatu yang selama ini kamu anggap diluar batas kemampuan kamu?
Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang kamu ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tetapi bila kamu sudah sampai kepuncak, semua pengorbanan itu pasti terbayar.
Kehidupan kamu akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan kamu. Bukan cara hidup yang seperti mereka pilihkan untuk kamu…


Sumber :dt-cerita

Friday, April 7, 2017

Dulu Haram Kini Halal | Kisah penuh hikmah



Pada suatu ketika di zaman Nabi Muhammad SAW ada seorang pencuri yang hendak bertaubat, dia duduk di majelis Nabi Muhammad SAW dimana para sahabat berdesakdesakkan di Masjib Nabawi.

Suatu ketika dia menangkap perkataan Nabi saw : “Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang Haram itu dalam keadaan halal”. Sungguh dia tidak memahami maksudnya, apalagi ketika para sahabat mendiskusikan hal tersebut setelah majelis dengan tingkat keimanan dan pemahaman yang jauh dibawah sang pencuri merasa tersisihkan.

Akhirnya malam pun semakin larut, sang pencuri lapar. Keluarlah dia dari Masjid demi melupakan rasa laparnya.

Di suatu gang tempat dia berjalan, dia mendapati suatu rumah yang pintunya agak terbuka. Dengan insting pencurinya yang tajam ia dapat melihat dalam gelap bahwa pintu itu tidak terkunci…dan timbullah peperangan dalam hatinya untuk mencuri atau tidak. Tidak, ia merasa tidak boleh mencuri lagi.

Namun tiba-tiba timbul bisikan aneh : “Jika kamu tidak mencuri mungkin akan ada pencuri lainnya yang belum tentu seperti kamu”. Menjadi berfikirlah dia, maka diputuskan dia hendak memberitahukan/mengingatkan pemiliknya di dalam agar mengunci pintu rumahnya, karena sudah lewat tengah malam.

Dia hendak memberi salam namun timbul kembali suara tadi : “Hei pemuda! bagaimana kalau ternyata di dalam ada pencuri dan pintu ini ternyata adalah pencuri itu yang membuka, bila engkau mengucap salam … akan kagetlah dia dan bersembunyi, alangkah baiknya jika engkau masuk diam-diam dan memergoki dia dengan menangkap basahnya !”

Ah.. benar juga, pikirnya.

Maka masuklah ia dengan tanpa suara… Ruangan rumah tersebut agak luas, dilihatnya berkeliling ada satu meja yang penuh makanan – timbul keinginannya untuk mencuri lagi, namun segera ia sadar – tidak, ia tidak boleh mencuri lagi. 

Masuklah ia dengan hati-hati, hehhh …syukurlah tidak ada pencuri berarti memang sang pemilik yang lalai mengunci pintu. Sekarang tinggal memberitahukan kepada pemilik rumah tentang kelalaiannya, tiba-tiba terdengar suara mendengkur halus dari sudut ruang….Ahh ternyata ada yang tidur mungkin sang pemilik dan sepertinya perempuan cantik. Tanpa dia sadari kakinya melangkah mendekati tempat tidur, perasaannya berkecamuk, macam-macam yang ada dalam hatinya. Kecantikan, tidak lengkapnya busana tidur yang menutup sang wanita membuat timbul hasrat kotor dalam dirinya.

Begitu besarnya hingga keluar keringat dinginnya, seakan jelas ia mendengar jantungnya berdetak kencang didadanya, serta tak dia sangka ia sudah duduk mematung disamping tempat tidur…Tidak, aku tidak boleh melakukan ini aku ingin bertaubat dan tidak mau menambah dosa yang ada, tidakk !!

Segera ia memutar badannya untuk pergi. Akan ia ketuk dan beri salam dari luar sebagaimana tadi. Ketika akan menuju pintu keluar ia melalui meja makan tadi, tiba-tiba terdengar bunyi dalam perutnya…ia lapar. Timbullah suara aneh tadi : “Bagus hei pemuda yang baik, bagaimana ringankah sekarang perasaanmu setelah melawan hawa nafsu birahimu?”

Eh-eh, ya. Alhamdulillah ada rasa bangga dalam hati ini dapat berbuat kebaikan dan niat perbuatan pemberitahuan ini akan sangat terpuji. Pikir sang pemuda. Suara itu berkata: “Maka sudah sepatutnya engkau memperoleh ganjaran dari sang pemilik rumah atas niat baikmu itu, ambillah sedikit makanan untuk mengganjal perutmu agar tidak timbul perasaan dan keinginan mencuri lagi!!”

Berpikirlah dia merenung sebentar, patutkah ia berbuat begitu? “Hei – tiba2x ia tersadar serta berucap dalam hati – engkau dari tadi yang berbicara dan memberi nasihat kepadaku? Tapi nasihatmu itu telah menjadikan aku menjadi tamu tidak diundang seperti ini, tidak.. aku tidak akan mendengarkan nasihatmu. Bila engkau Tuhan, tidak akan memberi nasihat seperti ini. Pasti engkau Syaithon (hening).

Celaka aku, bila ada orang yang di luar dan melihat perbuatanku …. aku harus keluar.” Maka tergesa-gesa ia keluar rumah wanita tersebut, ketika tiba dihadapan pintu ia mengetuk keras dan mengucap salam yang terdengar serak menakutkan. Semakin khawatir ia akan suaranya yang berubah, setelah itu tanpa memastikan pemiliknya mendengar atau tidak ia kembali menuju masjid dengan perasaan galau namun lega, karena tidak ada orang yang memergoki dia melakukan apa yang disarankan suara aneh tadi.

Sesampai dimasjid, ia melihat Nabi saw sedang berdiri sholat. Di sudut ruang ada seorang yang membaca al qur-aan dengan khusyu’ sambil meneteskan air mata, di sudut sudut terdapat para shahabat dan kaum shuffah tidur. Dingin sekali malam ini, lapar sekali perut ini teringat lagi ia akan pengalaman yang baru dia alami, bersyukur ia atas pertolongan Allah yang menguatkan hatinya.

Tapi … tidak di dengar bisikan Allah di hatinya, apakah Allah marah kepadaku? Lalu ia menghampiri sudut ruang masjid duduk dekat pintu, dekat orang yang membaca al quraan. Ditengah melamunnya ia mendengar sayup namun jelas bait-bait ayat suci ……

Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong:”Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari pada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja Mereka menjawab:”Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (QS. 14:21)

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orangorang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. 14:22)

Bergetarlah hatinya mendengar perkataan Allah yang di dengarnya, berkatalah ia “Engkau berbicara kepadakukah, ya Allah?” Serasa lapang hatinya, semakin asyik dia mendengarkan bacaan suci itu, maka lupalah ia akan laparnya, segar rasanya badannya.

Cukup lama ia mendengarkan bacaan orang itu hingga tiba-tiba tersentak ia karena bacaan itu dihentikan berganti dengan ucapan menjawab salam. Terlihat olehnya pula bahwa pria itu menjawab salam seseorang wanita dan seorang tua yang masuk langsung menuju tempat Nabi Muhammad SAW sedang duduk berdzikir, dan wajah wanita itu … adalah wajah wanita tadi !!!??? Timbul gelisah hatinya, apakah tadi ketika ia berada di ruangan itu sang wanita pura-pura tidur dan melihat wajahnya? Ataukah ada orang yang diam-diam melihatnya, mungkin laki-laki tua yang bersamanya adalah orang yang diam-diam memergokinya ketika ia keluar dan mengetuk pintu rumah itu? Ahh … celaka, celaka.

Namun gemetar tubuhnya, tidak mampu ia menggerakkan anggota tubuhnya untuk bersembunyi atau pergi apalagi tampak olehnya pria yang tadi membaca al Qur-aan hendak tidur dan tak lama pun mendengkur. Dan ia lihat mereka sudah berbicara dengan Nabi saw…. celaka, pikirnya panik !!

Hampir celentang jatuh ia ketika terdengar suara Nabi Muhammad SAW. : “Hai Fulan, kemarilah !” Dengan perlahan dan perasaan takut ia mendekat. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya.

Ia mendengar sang perempuan masih berbicara kepada Nabi Muhammad SAW. katanya : “…benar ya Rosulullah, saya sangat takut pada saat itu saya bermimpi rumah saya kemasukan orang yang hendak mencuri, dia mendekati saya dan hendak memperkosa saya, ketika saya berontak … ternyata itu hanya mimpi. Namun ketika saya melihat sekelilingnya ternyata pintu rumah saya terbuka sebagaimana mimpi saya dan ada suara menyeramkan yang membuat saya takut. Maka segera saya menuju rumah paman saya untuk meminta dicarikan suami buat saya, agar kejadian yang di mimpi saya tidak terjadi bila saya ada suami yang melindungi. Sehingga beliau mengajak saya menemui engkau disini agar memilihkan calon suami untuk saya”.

Nabi saw memandang kepada si pemuda bekas pencuri, lalu berkata : “Hai Fulan, karena tidak ada pria yang bangun kecuali engkau saat ini maka aku tawarkan padamu, maukah engkau menjadi suaminya?” Terkejut ia mendengar itu, cepat mengangguklah ia.

Dan setelah sholat shubuh Nabi saw mengumumkan hal ini dan meminta para shahabat mengumpulkan dana untuk mengadakan pernikahan dan pembayaran mas kawin si pemuda ini.

Setelah pernikahannya, tahulah ia akan arti perkataan Nabi Muhammad yang lalu : “Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang Haram itu dalam keadaan halal”.

----------------------------------------------------------------------------------------------

Cerita ini Di Kutip dari : blogs.myspace

Monday, March 20, 2017

Tuhan Selalu Menyayangi Kita




Aku kembali ingin bercerita tentang hari ini. Aku membuka laptopku seperti biasanya. Lama aku menunggu apa kata yang harus aku tuliskan terlebih dahulu dalam ceritaku ini. Kali ini aku ingin menceritakan tentang Tuhan. Jangan salah terka dulu, aku tak bisa membahasnya terlalu jauh seperti orang lain yang membahasnya dengan bahasanya sendiri. Sementara aku, aku ingin membahasnya dengan sederhana, karena seperti itulah gaya bahasa yang kumiliki. Sedikit ku perkenalkan, kesederhanaan yang kusukai bukan hanya dalam segi gaya bahasa tetapi banyak hal diluar daripada itu. Aku menyukai teman-teman yang bersikap sederhana, menyukai pakaian yang sederhana, dan sebagaimana wajarnya seorang lelaki, akupun menyukai wanita yang sederhana dalam takaran mataku. Berpenampilan sederhana tetapi tidak sederhana dalam beribadah kepada Tuhannya, kira-kira begitulah yang aku maksud. Tetapi sudahlah, aku tak ingin terlalu lama berbicara tentang hal itu. Sekarang aku akan memulai sedikit pembicaraanku. Aku ingin bercerita bagaimana aku mendapatkan sebuah tema pembicara yang sebernanya tak bisa kubahas sesuai harapan orang.
Siang hari tadi aku pulang dan mendapatkan sedikit kalimat dalam fikiranku, “ aku ingin menulis dengan judul-- Tuhan masih menyayangi kita”, begitulah kataku dalam hati. Tapi apa yang harus aku ceritakan? Apakah aku akan menceritakan tentang diriku dan temanku yang terkadang tak punya uang di kampung orang tetapi tetap selalu saja ada pertolongan Tuhan? Kami selalu bisa makan entah itu datangnya dari mana. Tidak dulu kataku, aku masih belum banyak ide tentang itu untuk bisa aku ceritakan. Sangat banyak pertolongan Tuhan kepadaku, hingga aku kebingungan untuk menuliskan yang mana. Apakah aku ingin menulis pertolongan Tuhan menolongku untuk mengobati luka hatiku saat Ayahku tercinta menghadap kepada-Nya? Apakah aku akan menceritakan tentang Tuhan ketika menolongku untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi dimana aku hanya memiliki seorang Ibu saja? Terlalu banyak yang akan kutulis jika ingin menyebutkan semua pertolongan Tuhan. Diajarkan dalam agamaku, bahwa ketika nikmat Tuhan harus dituliskan dengan tangkai pohon dan air laut adalah tintanya, maka itu tidak akan cukup untuk menulis semua nikmat yang Tuhan berikan. Tapi aku belum bisa memilih yang mana yang akan kutuliskan. Mungkin akan kuhapus saja judul itu dalam fikiranku. Aku tak ingin terlalu menghafal kata itu aku ingin merasakannya langsung dalam keseharianku dan berterima kasih kepada-Nya. Itu semualah yang terfikir dalam benakku saat pulang ke kost kecilku.
Sampailah sekarang aku di kost kecilku ini. Seperti biasa saat pulang aku langsung membaringkan badanku sejenak. Hari ini aku menunggu teman-temanku yang katanya akan datang malam ini. Katanya mereka ingin menyelesaikan tugas kuliahnya disini. Kuambil kembali handphone-ku lalu membuka salah satu aplikasi media sosialku. Aku mengarahkan perhatianku pada sebuah postingan tentang sebuah lomba penulisan lewat blog. Sepertinya aku tertarik mengikuti lomba ini, “baiklah akan kucoba,” begitu bisikan dari dalam diriku. Disana kulihat ada tema yang ditentukan untuk penulisan dalam blog itu,”Air, Salinitas, atau Jalan_Infrastruktur” begitulah temanya. Akupun mulai berfikir tema apa yang akan kuambil. Jika sudah kupilih salah satu temanya, apakah aku bisa membuat ide-ide yang berhubungan dengan tema yang kupilih? Sepertinya kebingunganku terlalu lama untuk memilih temanya akan membuatku tetap seperti itu dan justru tak ada hasil sedikitpun yang akan kuperoleh. Akhirnya kupilih salinitas. Mungkin dengan tema ini aku bisa punya pemikiran yang bisa kutuliskan dalam blogku nanti.
Sempat pula aku membaca dalam persyaratan lomba itu bahwa yang harus kuceritakan berhubungan dengan masalah di lingkungan tempat tinggalku dan harus kuberikan solusinya serta harapanku kedepannya. Dengan percaya dirinya aku mulai menulis huruf demi huruf dengan harapan bisa mengikuti lomba itu karena katanya dua orang pemenang dalam lomba akan mendapatkan hadiah jalan-jalan ke Lombok. Saat aku menyebutkan kata salinitas, yang terlintas dalam fikiranku adalah pengairan untuk sawah dengan menggunakan sistem tertentu. Aku pun mulai membayangkan bagaimana sistem pengairan sawah di kampung halamanku. Sedikit ku ceritakan, sebagian besar sawah di kampungku adalah sawah yang pengairannya adalah sistem tadah hujan. Karena menggunakan system tadah hujan, petani di kampungku hanya melakukan panen padi sekali dalam setahun, dan aku tahu turun tidaknya hujan itu tergantung dari pengaturan Tuhan. Maka wajarlah kami selalu was-was jika hujan mulai tak turun. Di kampungku pun terdapat penampungan air yang disebut tanggul, tapi begitulah…ukurannya tidak cukup besar untuk menampung air yang akan dialirkan ke semua sawah di kampungku. Mungkin hanya sekitar seratus petak sawah yang bisa mendapatkan air dari penampungan , bahkan kurang dari seratus sawah..begitulah fikirku. Berbicara mengenai pembangunan tanggul, aku mulai lagi mengarahkan fikiranku kepada pihak pemerintahan yang belum bisa membuat penampungan yang lebih besar. Karena di kecamatan sebelah, sudah terdapat tanggul yang sangat besar dan cukup memadai untuk digunakan sebagai pengairan terhadap sawah-sawah yang ada di kampung tersebut. Makanya itu mereka dapat melakukan panen padi sebanyak dua kali dalam setahun. Hatiku pun mulai iri dan mulai memojokkan pihak berwenang. Tapi tunggu dulu, aku mengingat tema dalam lomba itu mengenai pokok bahasan yang akan dituliskan yaitu solusi yang ditawarkan mengenai permasalahan dikampungku dan syarat yang ditentukan dalam teks itu adalah penulis tidak boleh menyudutkan pihak tertentu. Artinya aku tidak bisa menyalahkan pemerintah begitu saja. “Lalu apa yang akan aku tuliskan?” begitulah fikirku. Jika aku tak menuliskan apapun, bagaimana dengan perlombaannya? Bagaimana dengan hadiah jalan-jalan ke Lombok? Itu semualah yang aku pertanyakan.


Pulau Jampea beberapa tahun lalu
Pikiranku pun mulai kutujukan lagi pada sawah di kampungku. Beberapa waktu yang lalu aku mendengar kabar kalau dikampungku terjadi kekeringan sawah. Banyak masyarakat di kampungku mulai khawatir dengan keadaan ini. Sawah mulai kering sementara padi telah usai ditanam. Beberapa daun padi milik petani mulai berwarna kuning menandakan bahwa padi itu mulai haus, padi butuh air, entah darimanapun datangnya. Begitulah kabar yang kudapatkan dari Ibuku tercinta dari kampung halaman. Beberapa waktu kemudian aku pulang ke kampung. Akupun menyaksikan sendiri bagaimana keadaan padi di sawah-sawah milik petani. Ternyata benar apa yang dikatakan Ibuku. Padi itu mungkin akan mati dalam beberapa mingu kedepan jika air tak kunjung datang. Semua masyarakat pun senantiasa berharap agar air itu segera menyejukkan dahaga padi-padi milik mereka. Dan akhirnya pertolongan itupun kunjung datang. Hujan turun di malam hari. Membasahi atap-atap rumah warga. Aku di dalam rumah bisa merasakan sendiri bagaimana derasnya hujan malam itu. Air yang diharapkan sudah tiba. Terima kasih Ya Tuhan, begitu kataku dalam hati. Pagi pun datang beberapa warga sudah berlalu lalang di pagi yang mendung itu sambil membawa cangkul masing-masing. Aku tahu mereka akan ke sawah. Dengan wajah berseri-seri kulihat wajah mereka, tanda kesyukuran karena air harapan sudah tiba. Mereka tak sabar lagi melihat sawah mereka yang mungkin sudah dipenuhi air akibat hujan deras di malam harinya. Dan akhirnya begitulah yang terjadi. Sesuai dengan harapan air mulai mengalir dengan baik di sawah-sawah warga. Malam-malam berikutnya, hujan selalu turun di kampung kami, kampung yang amat kami cintai. Kulihat selalu keceriaan pak petani di hari-hari berikutnya. Dan karena hujan itu harapan kami untuk menuai hasil panen itu sudah mulai terpenuhi. Mungkin beberapa minggu lagi semua warga akan melakukan panen secara bersamaan karena beberapa petani sudah mulai turun kesawah untuk memanen padinya. Andai saja hujan tak turun, apa yang akan dimakan oleh kami yang mayoritas pekerjaan orang tuanya adalah petani. Apa yang akan dimakan oleh kami para mahasiswa dari kampung jika tak punya kiriman beras lagi sementara ekonomi kami tak cukup mendukung?. Terima kasih Ya Tuhan..

Sedikit kualihkan kembali perhatianku kepada tulisan yang akan kumasukkan dalam perlombaan. Tadinya aku mengira salinitas adalah pengairan karena begitulah yang aku fikirkan. Setelah kucari dalam aplikasi kamus besar bahasa Indonesia yang ada di komputerku, disana terpampang jelas pengertian salinitas yang sebenarnya adalah tingkat kandungan garam air laut, sungai, danau yang dihitung dalam seperseribu. Kutanyakan arti dari pengairan kepada temanku yang kukatakan di awal akan mengerjakan tugas di kostku. Ternyata istilah lain dari pengairan adalah irigasi. Kuperiksa kembali di kamus bahasaku dan begitulah arti yang sebenarnya. Irigasi adalah pengaturan, pembagian, atau pengaliran air menurut sistem tertentu untuk sawah. Lalu bagaimana dengan tulisanku yang sudah kutulis sebanyak dua halaman? Haruskah aku menghapusnya?. Kubaca kembali persyaratan dalam perlombaan itu. Dan tema yang tersedia ternyata bukanlah salinitas tapi sanitasi. Akhirnya kuputuskan untuk tidak mengikuti lomba itu karena terdapat batasan usia yaitu 17 tahun. Sementara usiaku dalam beberapa bulan yang akan datang sudah mencapai 20 tahun. Apakah aku menyesal? tidak. Karena setelah kubaca kembali dari awal tulisanku, justru kesalahanku mengartikan satu kata mengantarkanku pada sebuah rasa syukur kepada Sang Penciptaku. Lalu mungkin ada yang bertanya dibagian mana pembahasanku tentang Tuhan? Yah sampai pada yang kubahasakan tadi, aku tidak membahas Tuhan seperti orang lain. Aku ingin membahas Tuhan Yang Maha Pemberi, Yang Maha Adil, lagi Maha Pengasih. Tuhan memberi kami hujan saat sawah kami mulai kering. Tuhan menurunkan hujan bagi petani agar tak terlalu kesusahan dalam mencari sesuap nasi, disitulah aku menilai keadilan-Nya. Tuhan menolong kami ketika tak punya uang dan bisa makan di kampung orang, di bagian ini aku menilai Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih. Begitulah bahasa sederhanaku. Aku tidak bisa berdebat kala mereka bertanya dimana Tuhanmu? Siapakah dirimu dan siapakah Tuhanmu. Aku belum bisa. Aku tak ingin terlalu lama berdebat disana sementara aku lupa dengan Tuhanku. Dari semua yang aku tuliskan aku tetap memilih judulku sebagaimana awalnya yaitu” Tuhan Masih Menyayangi Kita”. Judul ini kupilih sebagai bentuk tulisan yang kusampaikan kepada diriku dan juga teman-temanku. Terkadang kita lupa bersyukur kepada Tuhan. Saat kita berada kelaparan dan tak punya uang lalu tiba-tiba dapat makan entah datangnya dari teman, ibu kost atau dari mana, bukankah itu bentuk pertolongan Tuhan yang di wakilkan lewat Manusia? Saya yakin banyak yang mengalami kejadian ini dan tidak menyadarinya.

Begitula akhir dari tulisan ini yang ingin kuungkapkan. Tulisan ini kiranya bisa bermanfaat untuk banyak orang. Khusus pula untuk teman-temanku yang sudah kehilangan orang tuanya agar bisa tetap tegar karena seperti yang kubahasakan Tuhan selalu punya cara untuk mengobati luka kita. Dan pula kepada teman-temanku yang masih memiliki orang tua maka jagalah mereka, sayangilah mereka, dan hormtilah mereka serta muliakanlah sebelum penyesalan itu datang. Terima kasih untuk teman-teman yang mengikuti kisahnya sampai akhir.. 


Sunday, March 19, 2017

Aku Mencari Inspirasi



Aku berbaring sambil menuliskan huruf demi huruf hingga terangkai menjadi sebuah kata hingga berpadu kalimat dan ku akhiri dengan tanda titik(.). Beriringan dengan diriku yang kupaksakan untuk mencari sebuah ide , aku mencoba berimajinasi, berkhayal sampai kudapatkan apa yang aku fikirkan. Dan akhirnya inilah yang aku fikirkan aku menulis sebuah kegundahan. Aku menuliskan kesulitanku untuk mendapatkan ide atau hal baru yang belum orang lain temukan. Aku ingin menulis layaknya mereka yang mampu menuangkan idenya hingga mnjadi sebuah karya yang indah,dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Aku tak ingin disebut sebagai seorang yang meniru karya orang lain. Aku ingin menjadi diriku sendiri, menciptakan hal yang menurutku baru meskipun di beberapa waktu yang akan datang aku menemui bahwa apa  yang aku fikirkan sudah difikirkan orang lain sebelum aku.. itu tidak masalah bagiku yang terpenting adalah aku telah mampu menuangkan ideku dalam bentuk karya tulis atau karya apapun itu. Menuliskan atau membuat sebuah karya yang muncul dengan sendirinya (tidak meniru) terkadang merupakan sesuatu yang sudah di tuliskan atau dikerjakan orang lain. Hal semacam itupun pernah terjadi padaku. Aku pernah menuliskan sebuah kalimat yang ku tulis di sebuah halaman sosial media, dan belakangan ada yang menambahkan di kolom komentarku. Ungkapnya bahwa yang telah ku tulis adalah sesuatu yang pernah diungkapkan oleh salah seorang ilmuan dalam sebuah buku. Mungkin fikirnya aku hanya menuliskan sesuatu yang pernah aku baca dalam buku itu karena terkadang begitu yang aku lakukan. Terkadang aku menulis sesuatu yang kurasa menarik ketika membaca sebuah buku.  Namun, akupun merasa sedikit senang karena saat itu aku hanya menuliskan sesuatu yang timbul begitu saja dari fikiranku saja, entah itu disebut sebagai apa. Aku yakin bukan hanya diriku yang mengalaminya. Orang lain pun pernah mengalaminya. Entah itu di kelas, ataupun di tempat lain. Terkadang sesuatu yang ingin kuucapkan, diucapkan oleh orang lain lebih dulu…

Tak terasa aku telah berada di paragraf ke-dua. Kata-kata yang kurangkai menjadi kalimat dan berpadu menjadi paragraph kecil kini sudah berada pada kata ke- 322. Aku sedikit mengingat bahwa ada beberapa pesan yang seharusnya tersampaikan dan harus sesuai dengan teks aslinya semacam pesan keagamaan(kitab) sebut saja Al-Qur’an karena kebetulan aku berlatar agama Islam. Namun, aku disini tidak berbicara mengenai hal itu. Aku sekarang ingin berbicara lebih jauh lagi mengenai fikiranku yang masih terus bimbang. Entah apa lagi yang ingin kutuliskan di kalimat selanjutnya. Aku mengenal beberapa sastrawan ternama di negeriku seperti Chairil Anwar, W.S Rendra, dan beberapa orang lainnya yang pernah kubaca puisinya. Karya mereka sungguh elok dibaca, didengar dan bahkan sebagian orang merasakannya sampai ke lubuk hatinya. Seperti puisi Chairil Anwar dengan judul “Aku” yang sering ku dengar di beberapa kegiatan di kampung halamanku saat acara 17-an(Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang diperingati setiap tahunnya). Aku selalu saja mendengar ucapan mereka yang selalu menyebutkan nama seorang pengarang puisi terkenal itu. Aku pun ingin dikenang seperti orang itu meskipun dikenal bukan sebagai pengarang yang jelas naaku bisa dikenang. Aku yakin ia pun pasti memulainya sama seperti dengan diriku ketika ingin memulai sebuah karya dalam sebuah coretan. Makanya kulanjutkan saja menulisku ini karena aku mendengar bisikan untuk melanjutkannya.

Sekali lagi aku memaksa,, apa yang akan aku tuliskan lagi selanjutnya. Aku sungguh bingung. Kataku, aku tak ingin terlalu lama dalam keadaan ini. Terperangkap dalam sebuah alam yang didalamnya aku tak melihat ide baru lagi. Apakah aku lebih baik menjadi plagiator saja? Ah tidak. Itu namanya mencuri bagiku. Aku ingin menulis dan berkarya dengan mengandalkan ideku sendiri. Pantaslah jika mungkin dalam beberapa kata atau kalimat yang telah aku tulis dan yang akan aku tulis tak karuan bahasanya. Aku ingin menulis dengan gayaku sendiri. Menulis apapun yang terlintas dari alam ideku. Hingga ada lagi sesuatu yang aku lihat atau aku dengar dan mampu memancing pikiranku untuk mengasilkan ide-ide lain. Aku masih menunggu, sembari melihat kesana kemari.

Dan yang pertama aku lihat di depan mataku adalah air yang jatuh dari langit menyentuh lantai depan tempat tinggalku menimbulkan suara-suara kecil, yah suara itu adalah suara air yang menyentuh lantai. Adakah ide baru yang muncul dari air hujan yang aku lihat? atau suara kecil air yang menyentuh lantai. Adakah ide yang terbayang disana? Ternyata hanya pertanyaan seperti itu yang masih muncul dibenakku. Aku beralih pada pandangan yang lain. Kulihat handphoneku dan langsung membuka salah satu aplikasi media sosialku. Pikirku, mungkin disana aku bisa menemukan inspirasi. Aku tidak berfikir akan meniru sesuatu yang mungkin tertulis di media sosial itu, tapi yang aku fikirkan adalah mungkin saja aku bisa menemukan sebuah gambar yang bisa aku ceritakan denga  gaya bahasaku sendiri. Mungkin saja ada sebuah keluhan disana yang bisa aku pecahkan masalahnya dengan caraku yang belum dilakukan orang lain. Saat aku mulai melihatnya yang muncul adalah sebuah cerita dari sebayaku, seorang teman dari kampong halamanku, teman seangkatanku yang sedang menuliskan curhatannya kala ia akan membawakan sebuah materi dengan judul Filsafat Cinta dan kucermati deretan katanya sampai bagian akhir. “Bagus juga imajinasi kawanku ini”, begitu kataku dalam hati. Sementara aku? Aku masih terus mencari ide apa yang bisa aku persembahkan. Minimal ide yang bisa berguna untuk diriku dan sahabat-sahabat serta keluargaku.. Aku masih dalam kegundahan. Ada satu suara yang cukup kukenal saat aku sedikit melamun. Itu suara pemasak nasiku yang biasa disebut orang reskuker yang berasal dari bahasa inggris(rice cooker) mungkin seperti itulah tulisan dalam bahasa inggrisnya aku tak tahu pasti karena aku tak cukup pandai juga dalam bahasa asing. Suara yang tadi kudengar menandakan nasiku telah masak. Aku berfikir mungkin setelah aku makan akan ada ide yang kudapat. Seperti itulah yang aku fikirkan saat ini, saat dimana aku masih menulis tentang kekuranganku mendapatkan ide itu. Beberapa kali kuhapus deretan kata ini sebagai tanda kebimbanganku. Akupun makan dulu dan akan kulanjutkan khayalanku setelahnya. Kini aku telah usai mengisi perutku dan mulai menempatkan jariku diatas tombol huruf komputerku

Setelah lama aku begitu, pandanganku tertuju pada sorotan lampu yang ada di kost kecil tempat tinggalku. Ah aku teringat pada ilmuwan penemu lampu pijar, Thomas Alva Edison. Pernah kudengar sepenggal kisahnya yang terlahir sebagai seorang anak yang dianggap bodoh dikelasnya dan dikeluarkan dari tempat sekolahnya. Namun kegigihan dari ibunya yang memberikan dorongan serta kemauannya untuk tetap berjuang ia menjadi seseorang yang tercatat namanya dalam buku sejarah penemuan. Katanya pun dalam cerita yang kudengar ia telah melakukan percobaan sebanyak 9.955 kali sampai akhirnya berhasil menemukan lampu pijarnya itu. Dan itulah yang kita pakai sekarang di banyak tempat. Aku tidak berani mengatakan dipakai oleh semua orang karena di kampungku masih terdapat beberapa rumah yang tidak menggunakan lampu itu. Mungkin karena permasalahan ekonomi. Pikirku mulai beralih pada keadaan kesejahteraan masyarakat di pelosok negeri. Seharusnya aku bisa berkarya untuk mereka. Seperti yang aku katakan tadi bahwa di kampungku masih terdapat beberapa orang yang belum bisa menggunakan lampu pijar penemuan si bapak Thomas Alva Edisan, minimal aku menciptakan sebuah alat untuk mendapatkan enegi listrik yang menggunakan sumber energi di tempat tinggalku dan tidak memiliki dampak yang buruk terhadap masyarakat. Apa yang harus aku ciptakan jika memang aku akan melakukannya? Yang terbayang hanya sebuah hasil dimana alat itu sudah ada dan aku tidak tau cara membuatnya dan dari mana energy listrik itu atau apa yang akan aku gunakan sebagai sumbernya.. aku tak menemukannya, “mungkin belum saatnya“ begitu kataku. Aku kembali berhenti dan tak menemukan ide-ide lagi. Padahal aku sudah mengisi perutku. Ternyata pemikiran awalku salah. Mungkin lapar ataupun tidaknya seseorang untuk mendapatkan ide baru itu tidaklah berpengaruh. Atau mungkin diriku yang terlalu bodoh dan tak mampu menemukan sedikitpun ide yang cemerlang? Aku masih bingung.


Aku hilang akal seperti akataku sebelumnya. Sebuah kalimat yang masih berulang menandakan pikiranku masih tetap yang itu saja. “IDE” kata dengan susunan tiga huruf ini membuat aku teringat satu orang temanku yang punya banyak ide. Dia tergolong mahasiswa cerdas di tempat kuliahku. Baru-baru ini ia mengajakku bergabung dengannya untuk mengikuti sebuah lomba karya tulis ilmiah di kelas kami. Rencananya dia akan membuat semacam bioetanol dari bahan buah lontar. Idenya sangat cemerlang menurutku. Tapi pada akhirnya kami tidak bisa mengikuti lombanya dikarenakan berkas yang seharusnya kami masukkan terlambat untuk disetor. Itu karena aku yang sebelumnya tidak pernah membantunya menyelesaikan berkasnya. Yang aku tau, aku dipanggil dan aku ikut. Begitu saja yang aku lakukan tidak ada yang bisa aku sumbangkan sebagai tanda terima kasihku karena ia sudah mengajakku. Cerita lain kuangkat dari seorang temanku lagi yang mengajakku untuk bergabung dengannya untuk menulis di sebuah blog yang ia buat. Dan tentunya aku tertarik. Karena dari dulu selalu ingin menuangkan apapun yang ada dalam fikiranku. Itulah mengapa belum ada karya yang bisa kunampakkan karena aku tidak memiliki ide itu sama sekali. Sementara temanku telah membuat beberapa tulisan dalam blog itu. Yang aku posting hanya beberapa informasi tentang mata pelajaranku yang kudapatkan, mengenai silabus pembelajaran, “betapa tak kreatifnya aku” begitulah fikirku. Jika aku ingin menceritakan lebih lanjut, temanku ini punya banyak ide cemerlang, selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah, tak pernah hilang akalnya. Bgitulah aku memandangnya. Ada pula temanku yang idenya selalu ia tuangkan dalam bentuk lain seperti membuat gelang dari pelepah pisang, membuat boneka kecil dan karya lainnya. Masih banyak teman-temanku yang bisa memberiku inspirasi tentang kemampuan mereka yang begitu hebat dalam mendapatkan ide. Apakah hidupku hanya akan menceritakan mereka? Apakah aku berniat menyaingi mereka? Tidak, aku hanya ingin terus bersama mereka yang selalu memberi inspirasi dan ide luar biasa kepadaku. Aku ingin melaju seperti mereka dan bersama mengukir nama yang bisa dikenang. Amin.

Masih seperti dengan beberapa paragraph sebalumnya dari tulisan ini, aku masih menuliskan kebingunganku tentang hal apa yang akan aku ungkapkan lagi. Sepertinya aku kali ini benar-benar hilang akal. Aku merasa kali ini sudah banyak yang aku ceritakan dalam tulisanku ini mengenai kebingunganku. Hanya ada satu ide yang bisa ku wujudkan saat ini yaitu memposting tulisanku ini yang bingung menemukan ide-ide baru. Tapi seperti yang kukatakan diawal ceritaku aku ingin berkarya dengan gayaku sendiri, bukan menjadi plagiator, bukan menulis kembali apa yang telah ditulis orang dan menganggap seolah-olah akulah pengarangnya. Aku katakan ini sebagai salah satu wujud dari ideku karena sebelum aku menuliskannya aku sudah berfikir untuk memposting sebuah tulisan dan akhirnya inilah tulisan yang bisa aku persembahkan. Tulisan tentang kebingunganku mencari ide. Tapi setidaknya aku sudah memulai langkah awalku karena aku yakin bahwa kegagalan dari Thomas Alva Edison sebanyak 9.955 itu dimulai dari kegagalannya yang pertama kali. Thanks buat yang mengikuti kisahnya sampai akhir. Semoga kedepannya ada karya yang bisa kita hasilkan dan bisa berguna untuk orang lain..